Rabu, 02 Desember 2009

RekaMan

Gemuruh suara ombak masih terngiang jelas di telingaku. Memekakan telinga dan mengingatkan kembali bayangan masa lalu. Hal itu jelas terukir dalam benakku. Aku tersentak oleh gumaman manis yang memilukan. Lebih dari sejuta umat terbunuh, terobek, terhantam ganasnya granat-granat orang asing.

Duka dan air mata masih tersisa. Bayangan, potret, dan tangisan pun terus membayangi hari-hariku. Di teluk itu, mereka menyerang dengan tanpa basa-basi. Mneghancurkan semua yang terlihat hingga menjadi abu.

Awan berubah menjadi kelabu, laut yang biru telah bersimbah darah. Bukan hal yang mengerikan, namun rasa takjub yang aku rasakan saat itu. Hanya sekejap, selanjutnya rasa bimbang menghantui kembali. Kuakui, aku merasakan sensai ketakutan yang luar biasa besar dalam hatiku. Aku pun terperosok dalam sebuah lubang yang sangat dalam. Aku tak tahu harus bagaimana ketika berada dalam kegelapan yang begitu pekat. Menangis, berteriak, atau haruskah aku memohon pada mereka?.. Tentu saja tidak!!.. Dengan usaha yang begitu berat, kucoba beranjak dari tempatku berdiri dan memutar otak untuk berfikir. Akhirnya aku kembali melihat matahari. Cahayanya begitu hangat kurasakan. Sungguh, hari itu aku baru menyadari bahwa begitu indah alam ini.

Kembali aku berjalan, susana begitu hening dan sunyi. Aku terus menelusuri jalan setapak itu dengan beribu pertanyaan terngiang di telingaku. Jantungku berdegup kencang, hatiku terasa pilu dan amarah yang meluap-luap menerjangku. Gubuk yang menjadi tempatku berteduh telah terbakar hingga menjadi abu. Bagaimana keadaan anakku, istri, dan kedua orang tuaku? Hanya itulah yang adalam benakku saat itu. Air mata dan jeritanku pun sudah tak mungkin terelakkan.

Hari itu adalah hari terberat dalam hidupku. Kurasakan jantungku berhenti berdegup, mulutku menganga penuh tanya dan hatiku tersayat penuh luka. Kedukaan terus menyelimutiku saat itu. Beberapa jam aku terdiam menenangkan hati hingga kutertidur dengan lelapnya..

Hari berikutnya, aku dikagetkan oleh silaunya cahaya matahari yang begitu hangat terasa. Dengan perlahan, kucoba membuka mataku dengan penuh harap. Dekapan hangat itu kembali terasa. Lina, anak bungsuku ternyata sedang memeluk erat tubuhku dengan mata terpejam. Ia begitu manis. aku pun membalas pelukannya dengan penuh kasih. Ternyata aku ada di rumah dengan selimut yang tebal dan harum, juga kasur yang begitu nyaman.

Aku berjanji, mimpi itu akan menjadi teguran terindah dalam hidupku. Kini aku baru menyadari bahwa aku begitu menyayangi keluargaku dan begitu pula dengan alam yang indah ini.. Kuucapkan, "SELAMAT PAGI DUNIA".. ^^

[catatan dikala latihan menulis karangan untuk persiapan LKS kota bogor : kelas 2 SMK Wikrama: bersama bu Dina.. (kangen banget).. sengaja tulisan ini aku abadikan sebagai kenang-kenangan...]

Bogor, 25 Maret 2008

warm regards,
MyMeH..



1 komentar: